Monday, May 23, 2011

So Sweet sih… tapi…

Hehe, hampir semua orang pasti sudah tau iklan ini. Sudah beberapa minggu iklan ini sering ditayangkan di televisi. Ini adalah iklan tropicana slim terbaru beserta jinglenya yang khusus dibuat untuk kepentingan komersial. Terlepas dari bagaimana produknya, kebanyakan kaum hawa senang melihat iklan ini di awal-awal tayang. Kalo pengalaman saya nonton tv bareng teman-teman kos sih banyak yang nyeletuk setiap iklannya lewat, kalo iklannya co cwit alias so sweet banget.


Ternyata gak cuma produknya yang manis, iklannyapun manis banget bikin setiap yang melihat mupeng. Liriknya juga romantis banget, membuat hati setiap yang mendengarnya berdebar-debar, hehehe. Okay, sebelum kita bahas lebih lanjut mari kita nyanyikan bersama-sama lagunya, hehe… Eits tunggu dulu!!, bagi yang tertarik dengan jinglenya, bisa di download di sini ya. Bagi yang ingin tau liriknya… yuukk mariii…

will you remember our sweet moments
and cherished them the way i do
how we spent our special moment together
how we used to share it all
will you remember me the way
i remember you, will you be the same
the last time i saw you, you are the sweetest
every moment with you is the sweetest one
Kalo dilihat dari video di atas, iklan ini menceritakan tentang kisah anak laki-laki dan perempuan yang di masa kecilnya sangat akrab dan mereka senang bermain bersama. Jalinan perteman dan bibit-bibit cinta yang sudah ada diantara mereka semasa mereka kecil tumbuh menjadi rasa cinta yang sesungguhnya ketika remaja. Sejak kecil hingga remaja menjelang dewasa mereka sering bersama menghabiskan waktu berdua ataupun bersama teman-teman sepermainan mereka yang lain. Ketika mereka dewasa, mereka harus berpisah karena suatu keadaan akan tetapi hati mereka tetap saling mencintai. Akhirnya dalam suatu kesempatan mereka bertemu kembali di suatu kafe dan saling melepas rindu. Tropicanaslimlah yang menjadi saksi bisu cinta mereka, hehehehehe.

Saya ini tipe orang yang melankolis, jadi ketika melihat iklan ini rasanya ikut terbawa dalam suasana percintaan mereka, jadi merinding, ikut deg-deg an dan juga mupeng, hahaha. Tapi setelah dipikir lagi dengan akal sehat, itu semua kan hanya cerita fiktif, sepertinya tak beda jauh dengan cerita-cerita dongeng lainnya. Rasanya tak mungkin deh ada hubungan percintaan yang berjalan semulus mereka, yaitu tanpa konflik, tanpa penghianatan, tanpa air mata dan tanpa orang ketiga (hadeeh, malah berimajinasi sendiri akibat pengaruh sinetron :p).

Tadinya saya mupeng setelah liat iklan ini, merasa cerita kedua tokoh itu sangat sempurna…. Tapiii… baru sadar… begitu lamanya hubungan mereka tapi belum tentu mereka menikah kan??! Jadi ya tidak sepenuhnya mereka akan bahagia bersama lho…Hohoho, jangan-jangan setelah ini bakal dibikin iklan versi kelanjutan cerita yang pertama..

Hahaha, kok saya jadi ngelantur dan ngurusin hal yang ga penting gini ya, lagipula itu kan cuma iklan, wkwkwkwkwk (trus daritadi cerita panjang lebar ngapain coba?! #%@%#*^*@&@(#%+#$@*)

Cermin Ajaib

Tiga hari yang lalu saat membantu teman kost packing untuk meninggalkan Jogja, saya mendapatkan banyak warisan. Ini bukan membicarakan masalah sepetak sawah, beberapa juta uang atau berapa meter rumah. Tapi tau sendirilah warisan anak kos itu seperti apa, ya tak lain tak bukan adalah seperangkat alat rumah tangga, hehe. Teman kosku yang bernama Indira itu memberi beberapa benda berharga seperti jepit jemuran, pembersih porslen, termos, kertas bekas, saos, toples, gelas, piring, sunlight, kain perca dan benda lain yang akan dibahas disini yaitu cermin ajaib, hehe.

Indira akhirnya rela memberikan cerminnya alasannya merasa kasihan karena saya yang hampir lima tahun ngekost ini belum memiliki cermin ‘sungguhan’, hehe. Iya sih, cermin saya di kamar hanyalah cermin kecil berukuran 10x10cm, paling-paling hanya bisa untuk mengecek wajah dan kerudung sudah rapi atau belum. Kalo untuk tau baju sudah rapi atau belum hampir selalu numpang teman kos lain yang memiliki cermin kamar lebih besar, atau bercermin dengan samar-samar di depan kaca jendela kamar… hoho kreatif bukan???

before :p
Ini bukan masalah modal ngga modal lho :p (hihi belum-belum sudah pembelaan), tapi ini masalah prinsip!!! , haghaghag. Ini semua karena saya kurang suka jika ada cermin besar di kamar karena terkesan ada yang selalu mengamati saya. Suka parno aja sih nanti kalo saya ngomong sendiri di cermin trus ada yang jawab, ataungga kalo saya lagi tidur ada ‘sesuatu bayangan lain’ di cermin wkwkwk lebay!

Intinya sih bukan itu, hehe. Jujur saja, saya termasuk orang yang kurang PD dengan penampilan fisik. Entahlah, merasa kurang menarik dan tidak secantik wanita-wanita lain sekarang ini aja. Yaaa, meskipun teman-teman lain berkata penampilan fisik saya tak seburuk yang saya kira, tapi tetap saja saya ngerasa i’m not ok. Jadi ya menurut saya cermin membuat saya semakin sering berkaca, semakin mengoreksi penampilan diri dan semakin membuat saya merasa kurang menarik.

Dugaan saya benar. Setelah cermin ajaib itu dipasang di kamar, yang ada malah saya ngacaaa muluuu… Norak banget deh pokoknya, berasa tau pertama kali seperti apa bentuk benda yang bernama cermin, hehehe. Kata si mantan pemiliknya sebelumnya sih tuh cermin dinamakan cermin cantik karena membuat orang yang bercermin dengannya menjadi cantik, wkwkwkwk bo’ong banget. Hahaha, yang ada malah cermin itu bikin ngerasa saya minder, kok ada ya manusia sejelek ini di dunia (hush, istighfar dew!).

after
Ya begitulah, saya jadi sibuk memperhatikan setiap centi wajah yang ternyata sekarang ditumbuhi banyak jerawat, menghitam dan banyak noda, hiks hiks. Selain itu, karena sebelumnya jarang bercermin, saya juga baru sadar ternyata badan saya jauh lebih kurus dari sebelumnya. Memang sih saya agak merasa senang karena diet dan senam yang saya lakukan kali ini berhasil, tapi ada rasa khawatir juga sih kalo semakin lama justru badan ini menjadi kerempeng. Hmm, jadi berfikir untuk melakukan program penggemukan badan nih...

Hmmm…. kalo direnungi, ga boleh terus-terusan nih saya merasa seperti ini. Lama-lama kepercayaan diri bisa terancam dan saya bisa menjadi manusia yang kurang bersyukur hanya karena terlalu subjektif memandang diri sendiri di cermin. Padahal kan, ya disyukuri aja diri kita sebagaimana adanya secara fisik. Ga melulu semuanya kurang, karena pasti Allah juga ciptakan lebihnya. Buktinya, banyak kok yang bilang tubuh saya ini sexy… wkwkwkkwkkwkwk… hihi kok jadi malah narsis :p

Jadi ya, sudahlah… tidak usah berlama-lama di cermin jika hanya membuat waktu kita terbuang dan minder kita meningkat. Biarkan cermin menjalankan tugasnya untuk menunjukkan bahwa wajah kita bersih, rambut kita rapi dan pakaian yang kita kenakan tidak terbalik. Kemudian tinggalkan…, karena ada banyak hal lain yang perlu kita lakukan menyangkut harga diri kita.

Kata Richard Carlson dalam bukunya “Don’t Sweet Guide To Weight Loss” nih…
“Cermin tidak harus menjadi hakim dan dewan juri harian anda. Ia hanya mengungkapkan permukaan dari diri anda, dan melakukannya dengan tidak sempurna karena anda bukanlah seorang pemandang yang objektif”

Dan yang paling penting, jangan lupa selalu membaca doa sebelum bercermin, agar Dia memberikan kebaikan bagi jiwa raga kita… Upayakan juga selalu mengenakan pakaian yang menutup aurat dan tidak berlebih-lebihan agar diridhoi-Nya…

Saturday, May 21, 2011

Maafkan aku bu…

Ibunda…*



Selimut kasih ini belum mampu menghangatkan dinginnya kerinduan untuk membahagiakanmu, ibunda.

Seribu satu teori kebajikan belum mampu membuat kami menyadari bahwa engkau ada…

Kami terlalu sibuk untuk menjadi anak-anak berbakti, meskipun yang engkau tuntut hanya agar kami tak celaka.

Kami terlalu gagah, terlalu berprestasi, dan terlalu berhasil dalam banyak hal untuk secara rendah hati mengakui bahwa tanpa engkau, ibunda, kami bukanlah apa-apa.

Begitu tersadar, ternyata kami sudah terlalu jauh berpetualang, sudah banyak adab dan etika yang kami ‘titipkan’ di kampung halaman sana.

Begitu ingat, segalanya telah mengubah diri kami menjadi musuh dari cita-cita kebajikan itu, betapa pun indahnya.

Hati kamu terlanjur beku dan mati…

Jiwa kami terlanjur gersang dan usang…

Nurani kami terlanjur berlumur noda yang sulit dibersihkan…

Dengan sisa asa dan niat seadanya kami berupaya menjadi anak yang tidak terlalu durhaka, tidak terlalu menyakiti, dan tidak terlalu banyak mengecewakanmu…

Wahai ibunda…
Kini kami sadar, betapa engkau sudah terlalu banyak memaafakan kami.
Dan kami yakin maaf itu masih engkau punya…


(* Dikutip dari Buku “Sutra Kasih Ibunda” karya Ust. Abu Umar Basyir)

 ***

Akhir-akhir ini saya lebih sensitif tentang tema-tema yang berbau ibu. Sebelumnya, tema ini menjadi hal yang membosankan, klasik bagi saya karena sering menemui banyak teorinya tapi sedikit praktek di lapangan. Entahlah apa yang membuat saya lebih peka tentang hal ini, yang jelas pasti karena atas ijin Allah dan Dialah yang mengetuk hati saya dengan beberapa perantara untuk menyadarkan bahwa saya ini adalah anak yang masih durhaka dan masih jauh bila dianggap berbakti kepada ibu.

Bagaimana tidak? Masih sering sekali saya berkata-kata lebih keras daripada beliau-meskipun tidak bermaksud kasar karena hanya sekedar lelah atau mood kurang baik saat itu. Saya juga masih sering menunda untuk segera melaksanakan perintah beliau padahal hanya sekedar diminta mencuci piring atau minta dibelikan sesuatu di warung. Saya juga sangat sering merepotkan beliau dengan pekerjaan-pekerjaan rumah yang seharusnya bisa saya lakukan sendiri. Parahnya, saya terkadang juga merasa bosan mendengarkan keluhan beliau… Duhh…

Seminggu yang lalu saya bertemu dengan ibu setelah sekian lama. Lega rasanya bisa melepas rasa kangen yang tertahan selama ini, tapi saya juga sangat sedih menyadari bahwa ibu sudah semakin tua. Rambutnya sudah banyak ditumbuhi uban berwarna putih, keriput di wajahnya sudah semakin terlihat jelas dan fisiknya semakin lemah jika harus bekerja berat. Memang semua itu sudah menjadi Sunnatullah bahwa seseorang akan bertambah tua dan lemah. Tapi Sedih rasanya jika harus membayangkan bahwa semakin bertambahnya usia beliau justru bertambah kesedihannya akibat ulah saya-anaknya yang sering menjadi beban pikiran dan belum bisa membahagiakan beliau.

Satu pintaku Ya Allah…

Berikan aku kesempatan untuk bisa membahagiakan ibu, membuat ibu bangga dan membalas segala jasa-jasanya meskipun jauh dari kata impas.

Jadikan aku sebagai anak sholeh, sebagai investasinyanya di dunia akhirat…

***

Memang, Ibu saya tidak sempurna, tidak berpendidikan tinggi, terkadang kuno, kurang nyambung jika berbicara tentang hal-hal kekinian dan masih suka sinetron, hehe

Tapi beliau orang terhebat bagi saya karena selalu mengajarkan kepasrahan menerima takdir hidup setelah kita berusaha. Beliau tak bosan mengingatkan saya untuk sholat malam dan puasa sunnah. Dan beliau adalah guru privat saya yang selalu mengajarkan saya bagaimana caranya menjadi wanita dan istri yang baik.

Terimakasih bu atas doa-doamu yang tak pernah berhenti mengalir untukku…

Terimakasih bu kau telah mengajarkan banyak hal kepadaku dengan sabar dan penuh kasih sayang.

Kau juga telah memberikan segala yang lebih dari kau miliki tapi aku hanya memberikan sangat sedikit dari banyak yang kumiliki meskipun itu hanya waktu.

Maafkan anakmu ini ibu…
Maafkan, aku terlalu sering membuatmu menangis…