Sepertinya cerita kali ini masih seputaran tentang ikan. Saya sendiri juga bingung, yang tadinya ingin bercerita singkat tapi kok jadi panjang begini. Ya sudahlah mari dilanjutgan!
Melanjutkan cerita sebelumnya tentang berkenalan dengan ikan dan biaya hidup ikan, kali ini saya ingin share tentang bagaimana proses pengasuhan si kecil. Intermezzo, sambil ngetik ini saya tiba-tiba ketawa sendiri nih… hihihi habisnya tiba-tiba teringat cerita lucu para ikaners yang pernah saya baca di suatu forum. Jadi begini ceritanya, saking maniaknya dengan ikan, ada salah satu diantara mereka yang bohong ke istri kalo sebenarnya harga ikan mereka mahal, yang sebenarnya diatas 600 ribu, ngakunya cuma sekitaran 200 ribu, wew dasar. Ada juga yang cerita kalo kamar sempitnya hampir dipenuhi dengan akuarium, lainnya ada juga yang sampai buka toko saking cintanya sama ikan, hehe ada-ada aja.
Back to topic, sebelumnya maaf kalo istilah judul di atas aneh. Istilah yang benar adalah baby blues syndrome yang intinya merupakan kekhawatiran danperasaan tidak mampu dari seorang ibu yang baru melahirkan untuk mengasuh anaknya dengan baik. Karena kali ini yang diasuh ikan jadinya ya fish blues syndrome, hehe ngasal. Memang begitulah kenyataannya, awal mula bawa ikan pulang-tepatnya setelah maghrib, rasa-rasanya cemas untuk memindahkan si ikan ke rumah barunya. Deg-degan, takut kalo-kalo membuat ikan stress di akuarium yang sekarang tapi Alhamdulillahnya mereka dapat dipindahkan dengan baik saat itu.
Belum selesai sampai di situ, ketika hari semakin malam dan ikan-ikan terlihat mulai nyaman dengan tempat barunya tapi justru ada perasaan khawatir berlebih dalam diri saya. Agak bingung melukiskannya, intinya saya merasa sangat takut dan akan merasa bersalah kalo-kalo tidak bisa merawat dengan baik. Mau pergi ke tempat tidur gelisah, sangat takut rasanya membayangkan besok pagi ketika bangun tidur ada teman baru saya yang sudah terkapar tak berdaya di akuarium. Ternyata ketakutan saya ini masuk ke dalam alam bawah sadar dan termanifestasikan di mimpi, hehehe lebay ya. Tapi beneran nih, ketika tidur saya memimpikan dua di antara mereka, si chiko dan ale terapung diakuarium, hiks hiks… Keparnoan ini mungkin sedikit banyak karna terpengaruh cerita orang-orang yang ikannya cepat mati dan pengalaman teman kos yang pernah memelihara ikan koki siangnya dan mati besok paginya, hehe.
Lanjut ke cerita tadi, pagi-pagi ketika bangun dengan perasaan cemas saya langsung menyalakan lampu tanpa ke kamar mandi atau merapikan rambut terlebih dahulu. Saat itu yang ada dipikiran hanyalah pertanyaan apa ikan-ikan saya masih berenang??, tidak sanggup membayangkan kemungkinan terburuknya, huhuhu…
Dan ternyata ketika mata saya meneliti isi akuarium… jeng.. jeng… jeeenng…
Alhamdulillah, lega rasanya ikan-ikan baru bangun dari tidurnya (haha sotoy) dan berenang dengan lincahnya. Dengan perasaan senang saya langsung memberi sarapan mereka sambil memperhatikan kondisi akuarium yang sudah terisi dengan sedikit kotoran ikan. Ketika itu, pandangan mata tertuju pada suatu benda kecil bergerak yang tadinya saya kira kotoran ikan. Geliii… bentuknya seperti cacing kecil atau jentik nyamuk tepatnya.. sempat heran kok bisa-bisanya mereka berada di situ.
Benda kecil bergerak itu saya amati lebih seksama, ternyata jumlahnya tak hanya satu, huhu sebel. Saya lihat lebih dekat dan lebih dekat lagi, eh eh ehh… kok ada sesuatu yang ganjil ya?? Mereka ternyata punyak mata dan ekor???? Apa mungkin… merekaaa?? Jangan-jangan… Aahh mana mungkin?? Baru kemarin kok…
| benda bergerak itu :p |
Saya kurang yakin dengan penglihatan saya karena memang mata saya kurang normal alias minus :p. Pagi-pagi di saat sebagian orang masih ada yang tertidur, saya panggil mbak kos saya untuk memastikan apakah benda bergerak itu seperti yang saya maksud. Dan ternyata benar, dia sangat lincah, berlarian kesana kemari dan suka bersembunyi seperti induknya. Mereka adalah bayi-bayi milik ibu ikan moli si chiko, karena memang si ibu perutnya lebih kempes daripada sebelumnya, hehehe.
| bayi-bayi yang sudah dipisahkan |
Perkenalkan sekali lagi, namanya ti-ni-wi-ni-bi-ti, yang terdeteksi hanya 6 ekor alias tidak sengaja ikut terbuang ketika akuarium dibersihkan. Untungnya teman kos ada yang menawarkan diri untuk mengadopsi bayi-bayi lucu itu, jadi ya setidaknya saya tidak benar-benar mengalami baby fish blues syndrome lagi :p
Ceritanya bersambung ya karna kepanjangan…

0 comments:
Post a Comment